Kamis, 27 Agustus 2009

Islam Direduksi dan Dibajak



JAKARTA, KOMPAS.com - Islam sebagai rahmat bagi semesta alam (rahmatan lil alamin) tidak hanya dipersempit dan direduksi, tetapi juga disimpangkan dan bahkan dibajak oleh beberapa orang Islam yang kerap mengklaim sebagai Muslim sejati.

Demikian ditegaskan Kepala Badan Litbang dan Pendidikan dan Latihan Departemen Agama HM Atho Mudzhar dalam ceramah menjelang buka puasa bersama di Istana Negara, Jakarta, Kamis (27/8).

Terhadap langkah beberapa orang yang justru kerap mengklaim sebagai Muslim sejati itu, Atho berharap mayoritas umat Islam Indonesia yang moderat bersatu padu dan bersikap tegas dalam menyatakan pandangan dan sikap. Dengan begitu, tidak ada peluang sedikit pun bagi para pembajak Islam bersembunyi.” Mungkin sudah saatnya bagi kelompok mayoritas Muslim Indonesia yang moderat itu untuk tak hanya menjadi silent majority, tetapi harus bersatu padu dan lebih tegas lagi dalam menyatakan pandangan dan sikap. Dengan demikian, masyarakat luas lebih mudah mengambil posisi dan tidak memberi peluang sedikit pun bagi persembunyian para pembajak Islam itu,” katanya.

Islam sebagai rahmat berarti jalan keselamatan, kemaslahatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan bagi kehidupan manusia di dunia maupun di akhirat. Islam sebagai rahmatan lil alamin juga mengandung arti Islam adalah agama universal, agama bagi seluruh umat manusia.

”Ada dua tantangan yang dihadapi kaum Muslimin di dunia dalam mengusung konsep dan peran Islam sebagai rahmatan lil alamin sekarang ini, yaitu tantangan ketidakpahaman sebagian pemeluk Islam tentang agamanya dan tantangan penyimpangan pemahaman dan pembajakan Islam oleh kelompok garis keras tertentu,” ujar Atho.

Jihad

Atho juga menjabarkan tentang konsep jihad yang maknanya bersungguh-sungguh, bukan melulu perang karena Islam suka damai. Untuk jihad dalam arti perang harus ada tiga syarat penting, yaitu bertemunya dua pasukan Islam dan musuh Islam, negeri Islam diduduki bangsa lain, dan imam atau pemimpin negara memerintahkan hal itu.

Buka puasa di Istana Negara atas undangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadirkan pimpinan lembaga negara, menteri, para duta besar negara Islam, kepala lembaga pemerintah nondepartemen, pejabat departemen, direktur utama BUMN, tokoh pers, dan alim ulama. Hadir juga Wakil Presiden terpilih Boediono bersama Ny Herawati Boediono dan beberapa anggota tim sukses SBY-Boediono.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar